Rannie_Bekti. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Foto Final Project

Cover Depan






Cover CD

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujian Kompetensi Kejuruan

Teman, besok tanggal 09 Februari 2011 aku akan melaksanakan Ujian Kompetensi Kejuruan. Di sini kita --murid SMK-- akan diuji kemampuannya. Apalagi untuk mata diklat produktif kejuruan. Kan di SMK tuh banyak banget jurusannya, mulai dari Kepariwisataan, Bisnis & Manajemen, dan Tehnik (itupun setahuku).
Proyekku untuk ujian ini adalah membuat profil Lesoeng Boutique. Di sana menyediakan banyak macam batik. mulai batik jaman mbah-mbah kita dan batik modern (kontemporer). Coraknya untuk batik jamannya mbah-mbah dulu lebih cenderung gelap, seperti latar ireng dan latar biru. Kalau corak batik kontemporer adalah  lebih kuat warnanya kayak kuning, hijau, orange, merah, dsb.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GILA-GILAAN BANGEEEEEEEEETTT...........

KLIK FOTO UNTUK MELIHAT









  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Mimpiku


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HISTORY OF PONOROGO

Ada 3 versi asal-usul Ponorogo dan pertunjukan Reyog yakni:
1. Versi Bantarangin,
2. Versi Ki Ageng Kutu Suryangalam,
3. Versi Batara Katong.

Disini saya memakai versi Bantarangin.




Senja itu nampak candikala melengkung dg indahnya di atas air terjun Sedhudha. Ki Ageng Dudha yang sudah tua, penunggu mata air yg mngalir hingga menuruni celah lereng arga wilis yg kelak akan kondhang disebut Air Terjun Sedhudho. Konon dia adalah punggawa Malwapati di Bojanagara yg telah purna tugas dan memilih menetap di arga wilis sebagai seorang begawan. Istrinya telah lama meninggal sebelum dia hijrah ke wilis. Beliau sangat kesepian, dan tidak mempunyai putra.
Lantunan mantra sakti yg bertuliskan di atas lontar itu terdengar semakin jelas. Memuja dewata dan embun percikan air terjun, tiba-tiba dari balik embun itu terdengar tangisan bayi. Segera dia mghampirinya, dengan senang dia menggendong bayi itu ke dalam pertapannya masuk ke bilik dari bambu. Pelan-pelan dia membersihkan dan mengeringkan tubuh bayi itu. Namun alangkah terkejutnya Begawan Dudha, bayi itu tak sepert bayi biasanya. Tubuhnya terlampau kecil dan wajahnya buruk menyerupai raksasa. Dahi menthul, hidung besar, gigi acak, ditambah lagi adanya sepasang siung yg nampak menyeringai. Tapi dengan hembusan napas yg amat berat akhirnya Ki Ageng menerima bayi itu dengan ikhlas. Dia sadar betul bahwa penciptaan manusia tak akan pernah bisa menyamai ciptaan Tuhan. Bayi itu diberi nama Jaka Pujan,karena dia lahir dari hembusan embun sedhudha yg menerpa wajahnya ketika Ki Ageng Memuja Dewa untuk diperkenankan memelihara anak tanpa adanya seorg istri
Sudah bertahun-tahun, Jaka Pujan telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa. Mski sayang wajahnya tidak tampan namun kepandaiannya dalam olah ilmu kanuragan maupun kebatinan tak usah diragukan lagi. Menangkap buruan pun dilakukannya sendirian tanpa bantuan ayahnya
Suatu saat ketika waktu dirasa sudah tepat, Ki Ageng menceritakan asal-usul Jaka Pujan bahwa dia sejatinya bukan anak kandungnya. Dengan hati yang sangat teriris, Jaka Pujan bisa menerimanya. Dengan berat hati mereka berpisah. Dipesannya agar anak kesayangannya itu berjalan ke arah barat hingga sampai ke arga Lawu. Di sana berdiam seorang resi sakti mandraguna bernama Ki Ajar Lawu. Dia berharap agar nantinya Jaka Pujan bisa menuntut ilmu pada Ki Ajar Lawu.
Berangkatlah Jaka Pujan ke arah barat menuju gunung Lawu.Jarak antara punggung gunung wilis sebelah timur dengan gunung lawu memang sangat jauh. Bahkan di masa sekarang kita bisa membayangkan, kita harus melewati setidaknya dua kabupaten yaitu Ponorogo, Magetan, dan sedikit wilayah Nganjuk. Tapi hal itu tak menyurutkan langkah Jaka Pujan untuk bisa berguru pada Ki Ajar Lawu.
Gua itu nampak gelap, dingin, dan hampir seluruh mulutnya tertutup rimbunnya semak belukar. Namun ada suatu keanehan, entah kenapa Jaka Pujan merasa damai dan betah berlama-lama untuk beristirahat di mulutnya sambil membakar ubi dan meminum air sendhang di hadapannya. Perjalanan ke arga Lawu memang sangat melelahkan.
Ketika Jaka Pujan hendak bangkit dari duduknya, tiba-tiba seekor naga menubruknya dengan amat keras! Dia terpental sangat jauh karenanya. Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Jaka Pujan dengan naga raksasa itu. Hingga akhirnya, dengan sigap dia memegang kepala sang naga, dan Kreekk.. dipelintirnya kepala naga itu hingga patah.
Pemandangan menakjubkan terjadi, gembung naga itu berubah menjadi sebuah payung dan kepalanya berubah menjadi mata tombak.
Tak lama kemudian, muncullah seorang kakek dengan baju lurik coklat dan berjarit latar ireng dari dalam gua itu. Dan meminta Jaka Pujan untuk masuk.
Jaka Pujan kaget melihat pemandangan itu. Seakan terkekang, dia menuruti saja perkataan Ki Ajar Lawu.
Sesampainya di dalam gua, dalam satu kedipan mata gua itu berubah menjadi padepokan luar biasa indahnya. Itulah Pertapan Gua Sagala-Gala atau Pertapan Sigala-Gala atau yang sering disebut arga Dumilah pada masa sekarang. Tombak dari kepala naga yang patah itu kemudian disebut Tumbak Tunggul Wulung. Sedangkan payungnya disebut Songsong Agung Tunggul Naga. Di sana juga ada sebuah kendaraan yang menyerupai tandu bernama Kyai Joli Jumpana. Ada seperangkat pakaian raja lengkap dengan sebuah praba emas, Kyai Praba Yuwasa. Sepasang topeng bernama Topeng Kencana dan Topeng Perunggu. Ada pula tumbak terbuat dari pokok kayu cendana, Kyai Jabardhas dan juga sebuah pecut sebagai senjata andalan Gunung Lawu bernama Cemethi Samandiman.
Rupanya senjata itu telah dipersiapkan untk menyambut kehadiran seorang raja yg akan jumeneng di Wengker suatu saat kelak.
Dari balik tirai muncullah seorang pemuda tampan dan gagah. Kelihatan sekali dia adalah seorang pangeran yang nampak dari pakaian serta penampilan fisiknya. Namun entah darimana asalnya. Mereka berdua saling berkenalan. Pemuda itu bernama Raden Klana Bagus dari Kerajaan Kahuripan putra Lembu Amiseno. Ternyata dia lebih dulu menuntut ilmu di arga Lawu. Diangkatlah mereka berdua menjadi saudara seperguruan murid dari Ki Ajar Lawu..
Tak terasa beberapa warsa telah berlalu. Ilmu mereka pun telah berkembang pesat berkali-kali lipat sejak mereka datang pertama kali dahulu. Raden Klana Bagus sangat lihai dalam ilmu kanuragan dan kebatinan sedangkan Jaka Pujan sangat mahir dan handal dalam ilmu ketatanegaraan serta berwatak jenaka.
Suatu ketika Ki Ajar Lawu memanggil mereka berdua ke pendhapa padhepokan Sagala-Gala. Dengan penuh sukacita dia mengatakan bahwa kedua muridnya dinyatakan lulus dan telah berhasil menyerap seluruh ilmu yang dberikannya selama beberapa tahun belakangan ini. Untuk itu mereka berdua diutus untuk turun gunung dan membangun suatu padhepokan kecil sebagai kepanjangan tangan dari padhepokan Sagala-Gala arga Lawu
Begitu tiba waktunya, mereka akhirnya berangkat menuju suatu tempat yg konon digambarkan sangat ganas, terjal, cadas, kering, dan cengkah yg dipenuhi oleh tetanduran darubeksi. Apalagi tempat itu juga terkenal dengan anginnya yang begitu kencang menyerupai badai. Semua gegaman dan senjata piandel diturunkan kepada mereka berdua mulai dari Tumbak Kyai Jabardhas, kendaraan raja Joli Jumpana, Praba Yuwasa, Songsong Agung, dan lain sebagainya
Ada yg istimewa dari sekian banyak senjata itu. Itulah sepasang topeng Kencana-Perunggu dan Cemethi Agung Samandiman. Topeng Kencana diberikan pada Klana Bagus dan Topeng Waja atau Topeng Perunggu diberikan pada Jaka Pujan. Sedangkan Cemethi Agung Samandiman diberikan pada Jaka Pujan dengan syarat dia mampu "mupu" senjata itu. Mupu artinya ngopeni atau memelihara karena Samandiman bukan sembarang pecut. Dia adalah pusaka pemberian langsung Bathara Naradha dan Hyang Guru, maka dari itu tidak sembarang orang pula yang mampu memelihara atau bahkan memegangnya dengan tangan lawaran saja. Samandiman tidak diberikan pada Klana Bagus karena Ki Ajar Lawu merasa kurang sreg hatinya. Ya, itulah kawaskithan seorang Resi. Dia mampu membaca masa depan dan dia khawatir Samandiman akan dipergunakan hanya sebagai alat bombong-bombongan saja oleh Klana Bagus. Kemampuannya mampu membelah gunung jejer pitu, mengeringkan samudra, mengendalikan jin serta hewan buas, bahkan mengoyak kahyangan sekalipun. Itulah sebabnya Hyang Naradha memberikan pusaka itu dengan maksud menyembunyikannya juga dari manusia-manusia yang berhati jahat. Maka dipilihlah arga Lawu dan Ki Ajar Lawu sebagai empunya yg kelak akan melahirkan sepasang ksatria yang akan bertahta di Kerajaan Banderan Angin.
Berangkatlah mereka berdua menuruni Harga Lawu menuju tempat yg terkenal angker dan ganas itu.
Tampak dari kejauhan debu,pasir, dan bebatuan saling bertabrakan awur-awur di langit. Suara beliung terdengar keras memekakkan telinga. Tak ada tetanduran apalagi manusia di sana. Ya, itulah banderan angin. Suatu tempat yang sangat "aneh" dipenuhi oleh angin yang bergulung-gulung hingga ke angkasa. Berkali-kali kedua murid Ki Ajar Lawu itu mencoba lebih masuk ke dalam pusaran namun selalu gagal. Badan mereka terpental jauh bagai terkena aji gelap sayuta. Menaklukkan tempat itu adalah suatu kemustahilan..
Tiba-tiba Klana Bagus teringat dengan Songsong Agung pemberian gurunya. Tangannya menengadah ke atas seraya mulutnya berkomat-kamit merapal mantra sakti. Serasa kilat menyambar ke tangan pemuda yang sangat tampan itu. Mendadak sebuah payung sangat besar sudah berada di tangannya. Dibukanya songsong itu diarahkan ke angkasa lalu dilemparkan ke tengah pusaran angin. Sekejap kemudian angin besar di sana berangsur-angsur berubah menjadi angin sepoi-sepoi. Sejuk sekali.
Beberapa pekan setelah peristiwa itu, mereka mendirikan sebuah padepokan di sana. Kian lama kian banyak orang yang bermukim di sana. Raden Klana Bagus diangkat sebagai pemimpin di komunitas tersebut sedangkan Jaka Pujan sebagai wakilnya.
Pekan berganti pekan, candra berganti candra. Setelah beberapa warsa, perkampungan itu berubah menjadi kerajaan yang begitu kokoh, makmur, dan sejahtera. Kondhang asmane, misuwur susilane, dhuwur kukuse, muncar kuncarane. Perkampungan kecil yang semula bernama Banderan Angin itu lama kelamaan berubah menjadi Bantar Angin berasal dari kata banter angin
Ya, itulah Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya bergelar Sri Mahaprabu Klana Siswahandana atau Prabu Klana Sewandana berdampingan dengan warangka praja Sri Mahapatih Klana Surawijaya atau Pujangga Anom.
***
Terperanjatlah Prabu Klana Sewandana dari tidurnya. Sudah ketiga kalinya mimpi itu datang. Mimpi bahwa dia didatangi oleh Bathara Indra..
Keesokan paginya, dia hendak duduk di sitinggil kedhaton Bantarangin. Dengan berpakaian ala raja yang serba gemerlap dia sudah siap dihadap oleh para tumenggung, menteri-menteri, dan tentu saja Patih Pujangga Anom. Sandal terumpah, celana cinde merah, jarit motif lereng barong, ubet merah motif cinde, sabuk motif bunga grajen emas, boro-boro samir, sampur sutra motif batik gendhala giri, uncal emas yang mewah, ditambah keris yang disengkelitkan di belakang pinggang bertabur emas intan berlian dan dikalungi roncean bunga melati serta kantil segar yang harum memenuhi ruangan. Kilat bahu bentuk naga rangsang, cakep, gulon kace lengkap dengan ilat-ilat dada, Praba Yuwasa dari emas tulen, hingga kuluk makutharaja dan sumping melati yang tak kalah indahnya. Sedangkan sang patih mengenakan celana dingkik dengan binggel kaki, sampur, embong bergambar yaksa tumiga, cakep, dan rompi dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai
Prabu Klana akhirnya mengungkapkan mimpinya yang aneh itu kepada Patih Pujangga Anom. Tak disangka, Patih Pujangga Anom sudah tanggap dengan hal itu. Memang, prinsip seorang pria jawa kuno kala itu yang bahkan masih dipegang sampai sekarang adalah " seorang laki-laki bisa dikatakan sempurna bila dia telah memiliki lima hal pokok. Lima hal itu adalah turangga, kukila, wisma, culiga, dan wanita "
Turangga = kuda; bermakna bahwa bisa bergerak kemana saja dengan berkendaraan baik dengan kuda ataupun kereta. Kukila = burung ( perkutut ); di kala senggang bisa menikmati suara indah perkutut yang tengah manggung sebagai hiburan. Wisma = rumah; simbol-simbol ekonomi yang kuat akan semakin nampak kokoh dan kuat bila diakhiri dengan kepemilikan rumah sebagai lambang kemapanan. Culiga = keris; seseorang dikatakan telah mumpuni dalam ilmu kanuragan ( sakti ) bila telah dilengkapi dengan keberadaan keris sebagai senjata yang disengkelitkan di pinggang. Sebagai penyempurna kewibawaan seorang pria jawa adalah wanita. Wanita = istri; bila seorang pria dari kasta sudra ataupun waisya cukup memiliki seorang istri saja sebagai pendamping hidup. Berbeda dengan kasta ksatria. Kala itu orang yang berasal dari golongan kasta ksatria itu berhak berpoligami dengan satu, dua, lima, sepuluh, lima puluh, bahkan ratusan selir sekalipun. Makin banyak selir, makin tinggi pula prestise atau kedudukan seseorang di mata masyarakat. Apalagi seorang raja dari negeri kaya raya seperti Bantarangin. Tapi jangankan puluhan selir, seorang istri pun Klana Sewandana belum memiliki. Hal inilah yang menjadi bahan pemikiran tersendiri bagi Patih Pujangga Anom..
" Kilisuci, nama itu sepertinya tak asing di telinga hamba, Kakang Prabu. Mmm..ya, benar! Kilisuci adalah sebutan bagi seorang wanita suci yang cantik jelita.. kalau tidak salah dia adalah seorang putri dari Kahuripan, Sinuwun. Rakyan Dyah Ayu Sang Dewi Sanggalangit adalah namanya. " ungkap sang patih. Setelah berdialog cukup panjang akhirnya Prabu Klana Sewandana mengeluarkan titah agar Patih Pujangga Anom segera menuju Kahuripan dengan maksud meminang Dewi Sanggalangit untuk dijadikan permaisuri agung negeri Bantarangin.
Berangkatlah Patih Pujangga Anom menuju Kahuripan diikuti oleh dua abdi setia perawat kuda istana Bantarangin, Patrajaya dan Patrathala. Sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau hingga tak terasa sampailah mereka di Kraton Kahuripan. Di sana ada raja dan patih Negeri Wana Lodhaya, Sri Prabu Singamahabarong dan Mahapatih Iderkala. Menurut kabar yang beredar, mereka berwujud singa raksasa dan burung merak namun kali ini sangat berbeda. Pemuda dengan senyum yang selalu tersungging, berwatak halus, berpakain ala raja kaya raya yang gemerlap pula. Ternyata Singabarong dan Pujangga Anom memiliki tujuan yang sama.Mereka menginginkan Sanggalangit untuk diperistri. Terjadilah perdebatan di sana.
Tak lama kemudian tercium bau harum menyengat hidung, alunan gamelan terdengar lebih keras,dan para hulubalang menundukkan kepala mereka.Benar-benar tercipta suasana magis. Para tamu mendongakkan kepala,menyusuri pintu masuk aula,dan benar saja. Sanggalangit muncul di sana. Luar biasa cantik dan anggun mengenakan kemben hijau sleret keemasan dan jarik yang gemerlap penuh nuansa hijau dan emas. Segera dia duduk di samping ayahnya
Setelah diberitahu emban Jemunak perihal kedatangan dua pelamar itu,Sanggalangit mengajukan bebana atau sayembara..
Tanpa pamit para tamu segera meninggalkan kraton Kahuripan pulang ke kerajaan mereka masing-masing menyisakan senyum Sanggalangit dan para nayaka praja di sana.
Calon suaminya kelak haruslah seorang yang suci juga seperti halnya dirinya. Maka harus diajukan 4 persyaratan yang harus bisa dipenuhi, yaitu:
1. Mampu mendatangkan 144 kuda kembar putih bersurai emas
2. Mampu menghadirkan 144 ksatria tampan kembar
3. Mampu menyuguhkan instrumen musik yg blm pernah dpertunjukkan di belahan dunia manapun.
4. Mampu menangkap hewan berbadan satu berkepala dua
Empat syarat itulah yg harus dpenuhi calon suaminya kelak sebagai mas kawin.
***
Dengan modal nekat, mereka dan rajanya kembali ke Kahuripan tanpa syarat apapun. Di jalan mereka berempat bertemu. Dan terjadi pertempuran. Pertempuran itu dimenangkan oleh Patih Pujangga Anom dan Prabu Klana. Dengan bekal itu mereka mendapatkan 4 syarat atas kemenangannya. Diteruskannya lagi perjalanan ke Kahuripan.
***
Ternyata begitu sampai di sana Prabu Klana tidak jadi memperistri Dewi Songgolangit.
***
Dewi Sanggalangit adalah titisan Dewi Widowati yang dilahirkan di Kerajaan Kadhiri. Ayahnya adalah seorang raja besar bernama Mahaprabu Lembu Amiluhur. Hampir mirip dengan kisah Sidharta Gautama, dia selalu berada di dalam kompleks kaputren tidak pernah keluar istana. Hal ini dlakukan untuk menjaga kesucian putri raja yg rupawan itu. Namun dibalik itu semua, sebenarnya ada satu hal yg tidak diketahui oleh orang banyak bahwasanya Dewi Sanggalangit mmiliki satu kelemahan fisik yg teramat fatal. Yaitu, karena saking sucinya sebagai titisan dewi, dia tidak menstruasi melalui kewanitaannya melainkan dari pori-pori kulit. Darah sekalipun seakan enggan untuk mengaliri karena kesuciannya. Bhkan ada versi lain yg menyebutkan kalau Sanggalangit itu “kedhi” artinya tidak bisa menstruasi. Hal inilah yang membuatnya tidak berani keluar istana karena merasa tidak lahir secara wanita sempurna dan mandul. Tetapi kelak Dewi Songgolangit akan mempunyai pasangan hidup yakni titisan Dewa Wisnu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS